Entahlah di peringatan hari pahlawan ini, saya hanya ingin bercerita tentang salah satu bukuku yang dulu diberikan oleh mantan pacarku. Pada tanggal 29 Februari 2004, mantan pacarku ini telah memberikan sebuah buku yang menurut saya sip banget. Bukan karena pemberian sang mantan pacar, lantas saya menjadi memuji setinggi langit buku ini, akan tetapi karena memang buku yang telah diberikannya adalah dikarang oleh seorang yang menurut saya pahlawan. Selain itu, tentu saja buku yang dikarangnya memang bermutu dan bagus. Rupanya mantan pacarku ini tahu, bahwa saya pengaggum berat si pahlawan ini. Siapa dia?

Dia adalah Y.B. Mangun Wijaya sang pahlawan KALI CODE. Ya, pinggiran KALI CODE ini yang dulu pernah menjadi tempat kostku saat di Jogjakarta. Pahlawan KALI CODE ini, selain telah banyak mengarang buku yang bersifat non fiksi, beliau telah banyak mengarang buku yang bersifat fiksi pula. Salah satunya adalah pemberian mantan pacarku ini yang berjudul; “RUMAH BAMBU.” Ini adalah buku kumpulan cerpen pertama dan terkahir yang diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) semenjak beliau wafat pada tanggal 10 Februari 1999. Buku kumpulan cerpen “RUMAH BAMBU” memiliki cerita-cerita yang tampak sederhana namun syarat makna. Lakon-lakon tentang keprihatinan orang kecil, kepahlawanan, tokoh pewayangan, sindiran khas selalu beliau ramu dari ratusan kata menjadi ratusan kalimat sehingga terciptalah menjadi sebuah cerita pendek yang mengalir dan enak dibaca. Terus terang buku “RUMAH BAMBU” ini selalu menjadi teman saya dikala saya sedang mencari pencerahan wawasan ketika ke Jatinangor. Buku “ RUMAH BAMBU” ini juga selalu saya bawa dan menjadi teman dalam bus Primajasa ketika saya akan bertandang dari Jatinangor ke rumah mantan sang pacar (Pamulang-Ciputat). Lalu, sayapun membawa kembali buku ”RUMAH BAMBU” ini dikala saya harus pulang ke kampung halaman (Indramayu) dengan Dewi Sri untuk mencari uang demi si anak mantan pacar.
Ceritanya seperti apa sih? Sehingga saya harus selalu bawa dan dibaca berulang-ulang seolah-olah tak pernah selesai. Sudah saya katakana sederhana namun syarat makna. Dan hanya orang-orang yang mempunyai empatilah ketika membaca buku ini, dia akan menerawang jauh dan kadangkala harus menitikan air mata. Tidak percaya? Buktikan saja apabila anda membacanya dan hayati.
Cerita “MBAK PUNG” (hal.143) sungguh menyayat hati. Seorang wanita yang ditinggal mati oleh bapaknya dan PURWATI ini adalah wanita yang buruk rupa seperti LIMBUK, namun menjadi tulang punggung adik-adik dan keluarganya. Seorang wanita perkasa yang selalu melindungi adik-adiknya. Seorang wanita penyabar yang selalu memberikan kasih sayang terhadap semua adik-adiknya “WINARTI”, “GHATOT dan "PINKI". Seorang wanita yang tidak laku kawin namun tetap berdiri kokoh untuk membesarkan adik-adiknya.
“MBAK PUNG” adalah seorang pahlawan yang melawan mitos bahwa apabila dilangkahi menikah oleh adiknya “WINARTI” dia tidak laku kawin. “Tidak mudah menjadi wanita buruk rupa, akan tetapi jauh lebih sulit ditakdirkan menjadi wanita cantik”.
GHATOT adik MBAK PUNK kelas 2 SMA ini, selau tak henti-hentinya sambil bercanda gurau mengolok-olok sang pahlawan ini.
GHATOT: “Haiyaaa, tetapi apa akan abadai begini saja.”
MBAK PUNK: “Biar!Abadi juga tak mengapa.”
GHATOT: “Segala di dunia fana ini tidak ada yang abadi.”
MBAK PUNK: “Sombongmu. Mentang-mentang sok filsuf .”
GHATOT: “Filsuf itu apa, Mbak?”
MBAK PUNK: “Embuh, hihiiiiihaa, aku sendiri tak tahu juga.”
GHATOT: “Hahaaahaaaa, aku tahu, hiyahuu!”
MBAK PUNK: “Apa?”
GHATOT: “Filsuf itu orang yang otaknya tidak kawin, tetapi hatinya ingin.”
MBAK PUNK: “Kurang ajar!Sudah, saya turun disini saja.”
Begitulah, kisah salah satu cerita hingga kadang “MBAK PUNG” menangis sendiri apabila mengingatnya.
Diakhir cerita: “PURWATI masih mengamat-amati diri dalam cermin satu veteran. Sejak kecil cermin musuhnya, pengolok-olok keji tanpa ampun. Ia benci pada cermin, tetapi entahlah setiap kali ia datang minta nasehat dan hikmah dari cermin setua itu”.
Ada lagi cerita yang berjudul “TAK ADA JALAN LAIN”, kisah si Baridin, lelaki menjadi perempuan, CAT KALENG, MBAH BENGUK, PUYUK GONGGONG, LAMPU WARISAN, PAHLAWAN KAMI, THITHUT, NARADA, COLT KEMARAU dan masih banyak lainya. Suatu saat, saya pasti akan menggoreskannya satu-persatu tentang buku “RUMAH BAMBU” ini. Entahlah kapan? Yang jelas, bukan hanya saya tulis ketika peringatan dihari pahlawan saja karena semakin Indonesia bertambah umurnya, semakin banyak saja pahwalan yang mengaku dirinya pahlawan. Tidak tahu siapa yang benar! (hayo ngaku???) Dan buat mantan pacarku yang kini menjadi istriku: terima kasih bukunya. Karena dengan buku ini, saya menjadi tahu apa itu hidup, paling tidak hidup untuk setengah jujur, eit…jangan donk???, harus jujur. Mampukah?
Sumber gambar Kali Code: http://static.panoramio.com/photos/original/21880791.jpg
Sumber photo Y.B.Mangun Wijaya :http://kalenderevent.com/events/show/2696